Minggu, pukul 23.46, waktu handphone saya. Lagi di kamar,
suasananya hening. Suara gemercik air hujan yang turun cukup membantu saya
untuk tidak merasa kesepian malam ini. Oh iya, ada suara ngorok saudara saya
juga di samping. Jadilah suara gerimis hujan dan ngorok bersahutan. Sudah
hampir tengah malam dan saya masih menulis ini untuk anda. Atau untuk saya
sendiri, saya tidak tahu. Saya cuma menyalurkan hobi menulis saya di blog
ini.
Kalau di ingat-ingat, aktivitas yang saya lakukan seharian ini
tidak ada artinya. Begitu pun malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang spesial.
Kalaupun ada, cuma sebentar, nanti biasa lagi, tidak berarti lagi. Setiap malam
sebelum tidur saya berdoa, "Ya tuhan, semoga malam ini lebih panjang, (
waktunya, bukan 'itu'nya ) amin." Tidak ingin ketemu pagi cepat-cepat.
Ingin berlama-lama di Alam bawah sadar. Karena disana, saya menemukan suatu
yang berbeda. Sangat-sangat berbeda dari hidup yang kita jalani saat ini.
Bisa saja disana saya bermimpi jadi pahlawan super, presiden, tukang
becak, bercinta dengan Miranda Kerr atau bahkan ketemu setan. Mimpi adalah dunia
yang sangat mengasyikan. Banyak kejutan yang akan kita temukan disana. Tapi
sayang, tidak setiap hari saya bermimpi. Karena itu, doa di atas saya
tambahkan, "Dan mendapatkan mimpi. Indah atau buruk tak
masalah."
Kadang saya merasa pikiran saya terlalu ekstrim. Karena
mungkin sudah benci dengan dunia ini dan segala isinya, saya berharap saat
tidur nanti akan ada alien yang menyerang bumi. Atau para monster dari lautan
muncul dan mengahancurkan apa saja yang ada di daratan. Terlalu fiksi? baiklah.
Saya berharap akan ada Tsunami besar yang menghancurkan kota ini. Atau para
teroris muncul lagi dengan bom yang bisa meledakkan seluruh kota. Entah terlalu
banyak nonton film atau sudah bosan hidup, saya tidak tahu. Yang pasti,
walaupun ingin, saya tak pernah berdoa untuk itu.
Saya suka kejutan hidup, dan mungkin anda juga. Kadang saya juga
berpikir, andai saya hidup di jaman penjajahan Belanda, mungkin saya akan dapat
kejutan-kejutan hidup, dimana suara tembakan dimana-mana, tidur tak nyenyak,
hidup tersiksa, dan akhirnya melawan untuk merdeka. Menyenangkan sekali rasanya
kalau hidup pada zaman itu. Tidak ada TV, internet, PlayStation, Handphone, dan
teknologi-teknologi lainnya.
Harapan hanya akan jadi bualan ketika itu tidak mungkin dilakukan.
Hidup bukan film Back to the Future yang bisa kembali ke masa depan dan masa
lalu seenaknya. Disini saya hanya membual, namun indah.
Kejutan hidup mungkin
akan kita dapatkan setelah kehidupan berakhir, atau ketika bumi sudah mencapai
batas terakhirnya menjadi lantai bagi manusia-manusia kotor, dan langit menolak
untuk membiarkan manusia kabur dengan pesawat ketika kiamat. Sejauh ini, saya
belum mengerti apa yang dipikirkanNya. Menciptakan manusia, surga, dan neraka. Kapasitas
saya sebagai manusia tidak bisa menjangkau pikiran tuhan. Dan tuhan, selalu
tahu apa yang saya pikirkan.
No comments:
Post a Comment