Sunday, July 15, 2012

Surat Kecil Untuk Tuhan


Minggu, pukul 23.46, waktu handphone saya. Lagi di kamar, suasananya hening. Suara gemercik air hujan yang turun cukup membantu saya untuk tidak merasa kesepian malam ini. Oh iya, ada suara ngorok saudara saya juga di samping. Jadilah suara gerimis hujan dan ngorok bersahutan. Sudah hampir tengah malam dan saya masih menulis ini untuk anda. Atau untuk saya sendiri, saya tidak tahu. Saya cuma menyalurkan hobi menulis saya di blog ini. 

Kalau di ingat-ingat, aktivitas yang saya lakukan seharian ini tidak ada artinya. Begitu pun malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang spesial. Kalaupun ada, cuma sebentar, nanti biasa lagi, tidak berarti lagi. Setiap malam sebelum tidur saya berdoa, "Ya tuhan, semoga malam ini lebih panjang, ( waktunya, bukan 'itu'nya ) amin." Tidak ingin ketemu pagi cepat-cepat. Ingin berlama-lama di Alam bawah sadar. Karena disana, saya menemukan suatu yang berbeda. Sangat-sangat berbeda dari hidup  yang kita jalani saat ini. Bisa saja disana saya bermimpi jadi pahlawan super, presiden, tukang becak, bercinta dengan Miranda Kerr atau bahkan ketemu setan. Mimpi adalah dunia yang sangat mengasyikan. Banyak kejutan yang akan kita temukan disana. Tapi sayang, tidak setiap hari saya bermimpi. Karena itu, doa di atas saya tambahkan, "Dan mendapatkan mimpi. Indah atau buruk tak masalah." 

 Kadang saya merasa pikiran saya terlalu ekstrim. Karena mungkin sudah benci dengan dunia ini dan segala isinya, saya berharap saat tidur nanti akan ada alien yang menyerang bumi. Atau para monster dari lautan muncul dan mengahancurkan apa saja yang ada di daratan. Terlalu fiksi? baiklah. Saya berharap akan ada Tsunami besar yang menghancurkan kota ini. Atau para teroris muncul lagi dengan bom yang bisa meledakkan seluruh kota. Entah terlalu banyak nonton film atau sudah bosan hidup, saya tidak tahu. Yang pasti, walaupun ingin, saya tak pernah berdoa untuk itu. 

Saya suka kejutan hidup, dan mungkin anda juga. Kadang saya juga berpikir, andai saya hidup di jaman penjajahan Belanda, mungkin saya akan dapat kejutan-kejutan hidup, dimana suara tembakan dimana-mana, tidur tak nyenyak, hidup tersiksa, dan akhirnya melawan untuk merdeka. Menyenangkan sekali rasanya kalau hidup pada zaman itu. Tidak ada TV, internet, PlayStation, Handphone, dan teknologi-teknologi lainnya. 
Harapan hanya akan jadi bualan ketika itu tidak mungkin dilakukan. Hidup bukan film Back to the Future yang bisa kembali ke masa depan dan masa lalu seenaknya. Disini saya hanya membual, namun indah.
Kejutan hidup mungkin akan kita dapatkan setelah kehidupan berakhir, atau ketika bumi sudah mencapai batas terakhirnya menjadi lantai bagi manusia-manusia kotor, dan langit menolak untuk membiarkan manusia kabur dengan pesawat ketika kiamat. Sejauh ini, saya belum mengerti apa yang dipikirkanNya. Menciptakan manusia, surga, dan neraka. Kapasitas saya sebagai manusia tidak bisa menjangkau pikiran tuhan. Dan tuhan, selalu tahu apa yang saya pikirkan.


No comments: